ditulis oleh : Diajeng Isya Primaruti
Jumat, 7 Agustus 2009 merupakan malam Final Pemilihan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta 2009. Acara sederhana yang merupakan puncak rangkaian dari proses Pemilihan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta ini berlangsung sederhana namun tetap memberikan kesan yang mendalam bagi saya sebagai salah satu finalis diajeng. Kegiatan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta sendiri tidak hanya berhenti sampai di sini, lima besar pasangan dimas diajeng terpilih akan mengikuti seleksi Pemilihan Dimas Diajeng Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai pembekalan pengetahuan kebudayaan untuk kami, saya bersama finalis Dimas Diajeng Kota Yogyakarta dan tentunya bersama 5 besar pasangan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta, diajak oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta untuk mengikuti kegiatan Wisata Minat Khusus “Kampung Taman” yang diselenggarakan selama dua hari yaitu pada hari Selasa dan Rabu, 11-12 Agustus 2009.
Peserta kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh para finalis dan 5 besar pasangan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta saja, melainkan ada beberapa peserta lain yang berasal dari sejumlah SMA dan juga beberapa mahasiswa asing yang tengah belajar di Yogyakarta. Pada pembukaan acara, seluruh peserta diberi penjelasan singkat mengenai proses membatik, mulai dari peralatan membatik hingga bahan-bahan yang diperlukan. Hal yang sangat menarik perhatian saya adalah adanya bermacam-macam canthing yang ternyata ada yang berasal dari luar negeri, seperti canthing yang berasal dari Thailand dan China. Namun tidak hanya itu, para peserta juga diberitahu bagaimana cara membuat malam (lilin yang digunakan dalam membatik) sendiri. Setelah selesai memberikan petunjuk singkat mengenai proses membatik, seluruh peserta dibagi menjadi tiga kelompok yang kemudian akan menuju sanggar batik masing-masing.
[caption id="attachment_96" align="aligncenter" width="300" caption="Dimas Diajeng Kota Yogyakarta dan hasil karya batiknya"]

[/caption]
Saya beserta 8 peserta dari Paguyuban Dimas Diajeng Kota Yogyakarta ditempatkan di sanggar batik yang letaknya sangat dekat masjid bawah tanah di kompleks objek wisata Taman Sari. Sesampainya kami di sana, para tentor membatik menyambut kami dengan ramah dan hangat. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, workshop membatik pun segera dimulai. Para tentor mulai menerangkan bagaimana cara memegang canthing dengan benar, cara memegang kain yang hendak dibatik, dan posisi duduk yang tepat. Proses menyeketsa kami lewati, karena para peserta telah diberi satu kain putih bersketsa untuk di batik. Maka tugas kami yang selanjutnya adalah nyanthing (menggambar dengan malam/lilin dengan menggunakan canthing) di atas kain tersebut. Ternyata tidak mudah pada awalnya, kami harus bisa memosisikan canthing yang berisi malam dengan benar ketika hendak menggoreskannya di atas kain. Apabila canthing yang dipegang terlalu menungging dapat menyebabkan malam menetes dengan cepat dan mbleber di kain, sedangkan yang terlalu rendah dapat membuat malam di dalamnya menumpahi tangan kita.
Membatik bukan hanya mengenai bagaimana kita menggambari kain biasa sehingga menjadi luar biasa bernilai namun, dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengaplikasikan apa yang kita dapat ketika proses membatik di kehidupan kita. Contoh untuk hal ini (cara memosisikan canthing) adalah bagaimana cara kita memosisikan diri di tengah masyarakat, bagaimana kita bersikap, dan bagaimana kita berprilaku. Tidak boleh berlebihan, namun juga jangan kurang. Hal lain yang dapat kita ambil pelajaran dari sekedar membatik adalah bagaimana kita mengontrol diri kita, khususnya emosi kita ketika berperilaku. Digambarkan dalam usaha kita untuk mengontrol suhu malam dalam canthing agar tidak terlalu panas namun tidak terlalu dingin. Suhu yang panas (di atas 80˚ C) dapat mengakibatkan malam keluar dari ujung canthing terlalu deras, sehingga garis yang dihasilkan akan terlalu tebal namun sebaliknya, jika suhu terlalu dingin (± 60˚ C) malam juga telah sedikit menggumpal sehingga garis yang dihasilkan akan terlalu tipis dan tidak dapat menembus kain. Suhu malam yang paling pas untuk membatik adalah ± 70˚ C, garis yang dihasilkan tidak terlalu lebar, tidak terlalu tipis, dan yang pasti malam tetap menembus hingga ke balik kain. Setiap proses di dalam membatik memberikan artian yang mendalam pada para pembatik. Mereka dituntut untuk bersabar, menjalani proses dengan tenang dan tidak disarankan untuk terburu-buru dalam menyelesaikan pembuatan batik, karena hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah bagaimana kita dapat memaknai setiap proses yang dilalui. Mungkin peribahasa jawa, “alon-alon waton kelakon” cocok untuk menggambarkan keseluruhan proses membatik.
Pada kesempatan tersebut, para tentor banyak yang menceritakan pengalaman mereka di dunia perbatikan kepada kami, mengenai perkembangan teknik-teknik membatik hingga bagaimana cara mereka menawarkan hasil batik mereka. Dalam proses pewarnaan kali ini, mereka berkata bahwa kami akan menggunakan naphtol dan pewarna kimia lain yang beresiko dapat menyebabkan kanker kulit, sehingga dalam proses pewarnaan dengan teknik celup ini, sebaiknya kami menggunakan sarung tangan karet. Para tentor juga mengatakan bahwa bahan-bahan yang mereka gunakan sebisa mungkin digunakan kembali (didaur ulang) dan untuk bahan yang harus dibuang mereka tidak membuangnya langsung ke tanah, hal ini dilakukan dalam upaya melestarikan alam. Hal ini mengingatkan saya pada falsafah kehidupan masyarakat Yogyakarta, “Hamemayu Hayuning Bawana” yang memiliki pengertian sederhana menyempurnakan/mempercantik indahnya bumi yang merupakan tempat tinggal manusia. Batik membuat bumi ini lebih indah, namun tidak lupa kita tetap harus menjaga kelestarian alam.