Selasa, 25 Agustus 2009

Membatik, Sebuah Nilai Luhur Masyarakat Yogyakarta

ditulis oleh : Diajeng Isya Primaruti


Jumat, 7 Agustus 2009 merupakan malam Final Pemilihan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta 2009. Acara sederhana yang merupakan puncak rangkaian dari proses Pemilihan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta ini berlangsung sederhana namun tetap memberikan kesan yang mendalam bagi saya sebagai salah satu finalis diajeng. Kegiatan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta sendiri tidak hanya berhenti sampai di sini, lima besar pasangan dimas diajeng terpilih akan mengikuti seleksi Pemilihan Dimas Diajeng Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai pembekalan pengetahuan kebudayaan untuk kami, saya bersama finalis Dimas Diajeng Kota Yogyakarta dan tentunya bersama 5 besar pasangan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta, diajak oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta untuk mengikuti kegiatan Wisata Minat Khusus “Kampung Taman” yang diselenggarakan selama dua hari yaitu pada hari Selasa dan Rabu, 11-12 Agustus 2009.


Peserta kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh para finalis dan 5 besar pasangan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta saja, melainkan ada beberapa peserta lain yang berasal dari sejumlah SMA dan juga beberapa mahasiswa asing yang tengah belajar di Yogyakarta. Pada pembukaan acara, seluruh peserta diberi penjelasan singkat mengenai proses membatik, mulai dari peralatan membatik hingga bahan-bahan yang diperlukan. Hal yang sangat menarik perhatian saya adalah adanya bermacam-macam canthing yang ternyata ada yang berasal dari luar negeri, seperti canthing yang berasal dari Thailand dan China. Namun tidak hanya itu, para peserta juga diberitahu bagaimana cara membuat malam (lilin yang digunakan dalam membatik) sendiri. Setelah selesai memberikan petunjuk singkat mengenai proses membatik, seluruh peserta dibagi menjadi tiga kelompok yang kemudian akan menuju sanggar batik masing-masing.




[caption id="attachment_96" align="aligncenter" width="300" caption="Dimas Diajeng Kota Yogyakarta dan hasil karya batiknya"]Dimas Diajeng Kota Yogyakarta dan hasil karya batiknya[/caption]

Saya beserta 8 peserta dari Paguyuban Dimas Diajeng Kota Yogyakarta ditempatkan di sanggar batik yang letaknya sangat dekat masjid bawah tanah di kompleks objek wisata Taman Sari. Sesampainya kami di sana, para tentor membatik menyambut kami dengan ramah dan hangat. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, workshop membatik pun segera dimulai. Para tentor mulai menerangkan bagaimana cara memegang canthing dengan benar, cara memegang kain yang hendak dibatik, dan posisi duduk yang tepat. Proses menyeketsa kami lewati, karena para peserta telah diberi satu kain putih bersketsa untuk di batik.  Maka tugas kami yang selanjutnya adalah nyanthing (menggambar dengan malam/lilin dengan menggunakan canthing) di atas kain tersebut. Ternyata tidak mudah pada awalnya, kami harus bisa memosisikan canthing yang berisi malam dengan benar ketika hendak menggoreskannya di atas kain. Apabila canthing yang dipegang terlalu menungging dapat menyebabkan malam menetes dengan cepat dan mbleber di kain, sedangkan yang terlalu rendah dapat membuat malam di dalamnya menumpahi tangan kita.


Membatik bukan hanya mengenai bagaimana kita menggambari kain biasa sehingga menjadi luar biasa bernilai namun, dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengaplikasikan apa yang kita dapat ketika proses membatik di kehidupan kita. Contoh untuk hal ini (cara memosisikan canthing) adalah bagaimana cara kita memosisikan diri di tengah masyarakat, bagaimana kita bersikap, dan bagaimana kita berprilaku. Tidak boleh berlebihan, namun juga jangan kurang. Hal lain yang dapat kita ambil pelajaran dari sekedar membatik adalah bagaimana kita mengontrol diri kita, khususnya emosi kita ketika berperilaku. Digambarkan dalam usaha kita untuk mengontrol suhu malam dalam canthing agar tidak terlalu panas namun tidak terlalu dingin. Suhu yang panas (di atas 80˚ C) dapat mengakibatkan malam keluar dari ujung canthing terlalu deras, sehingga garis yang dihasilkan akan terlalu tebal namun sebaliknya, jika suhu terlalu dingin (± 60˚ C) malam juga telah sedikit menggumpal sehingga garis yang dihasilkan akan terlalu tipis dan tidak dapat menembus kain. Suhu malam yang paling pas untuk membatik adalah ± 70˚ C, garis yang dihasilkan tidak terlalu lebar, tidak terlalu tipis, dan yang pasti malam tetap menembus hingga ke balik kain. Setiap proses di dalam membatik memberikan artian yang mendalam pada para pembatik. Mereka dituntut untuk bersabar, menjalani proses dengan tenang dan tidak disarankan untuk terburu-buru dalam menyelesaikan pembuatan batik, karena hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah bagaimana kita dapat memaknai setiap proses yang dilalui. Mungkin peribahasa jawa, “alon-alon waton kelakon” cocok untuk menggambarkan keseluruhan proses membatik.


Pada kesempatan tersebut, para tentor banyak yang menceritakan pengalaman mereka di dunia perbatikan kepada kami, mengenai perkembangan teknik-teknik membatik hingga bagaimana cara mereka menawarkan hasil batik mereka. Dalam proses pewarnaan kali ini, mereka berkata bahwa kami akan menggunakan naphtol dan pewarna kimia lain yang beresiko dapat menyebabkan kanker kulit, sehingga dalam proses pewarnaan dengan teknik celup ini, sebaiknya kami menggunakan sarung tangan karet. Para tentor juga mengatakan bahwa bahan-bahan yang mereka gunakan sebisa mungkin digunakan kembali (didaur ulang) dan untuk bahan yang harus dibuang mereka tidak membuangnya langsung ke tanah, hal ini dilakukan dalam upaya melestarikan alam. Hal ini mengingatkan saya pada falsafah kehidupan masyarakat Yogyakarta, “Hamemayu Hayuning Bawana” yang memiliki pengertian sederhana menyempurnakan/mempercantik indahnya bumi yang merupakan tempat tinggal manusia. Batik membuat bumi ini lebih indah, namun tidak lupa kita tetap harus menjaga kelestarian alam.


Pagelaran Budaya ATREBUD (Aku Tresna Kabudayan)

Paguyuban Dimas Diajeng Yogyakarta (PDDJ) kembali dipercaya untuk menjadi MC dalam acara budaya yang diselenggarakan di Yogyakarta. Kali ini PDDJ didapuk oleh Panitia Peringatan Hari Ulang Tahun SMA Negeri 9 Yogyakarta ke-57 sebagai MC dalam acara Pagelaran Budaya ATREBUD (Aku Tresna Kabudayan). Acara ini diselenggarakan pada tanggal 20 Agustus 2009 di Gedung Pertunjukan Tejokusumo, Fakultas Bahasa dan Seni UNY.




[caption id="attachment_101" align="alignleft" width="225" caption="Dimas Arga dan Diajeng Tika sedang mewawancarai salah satu panitia"]Dimas Arga dan Diajeng Tika sedang mewawancarai salah satu panitia[/caption]

Pada kesempatan ini, Paguyuban Dimas Diajeng Yogyakarta mengirimkan Dimas Arga dan Diajeng Tika untuk bertugas dalam acara tersebut. Selain membawakan acara dalam suasana yang cukup santai, Dimas Arga juga menampilkan diminta untuk nembang dan menyanyi langgam untuk mengisi jeda antar pengisi acara.


Menurut Dimas Arga, Pagelaran Budaya yang dilaksanakan ini terbilang cukup bagus, karena belum banyak pelajar SMA yang mengadakan acara budaya seperti ini. Hal ini tentunya diharapkan dapat memicu semangat generasi muda untuk tetap melestarikan budaya dan kesenian Jawa dalam bentuk apapun.


Acara yang disuguhkan dalam pagelaran budaya ATREBUD ini didominasi dengan pertunjukan gamelan dari pelajar beberapa SMP dan SMA di Yogyakarta. Namun, kesenian lain seperti tari dan teater pun juga ditampilkan dalam acara ini. Selain itu, acara ini juga menampilkan Youngsters Gayam 16 dan Stupa UNY sebagai bintang tamu.




[caption id="attachment_106" align="alignright" width="300" caption="Stupa UNY"]Stupa UNY[/caption]

Sebagai acara yang salah satu tujuannya adalah untuk menangguhkan generasi muda yang cinta budaya Indonesia, khususnya Yogyakarta, acara ini terbilang cukup sukses. Sambutan dari penonton yang hadir di tempat acara cukup meriah. Hal ini dikarenakan pengemasan acara yang tidak terlalu formal, sehingga dapat dinikmati oleh kalangan generasi muda. Ketua panitia menyatakan, dipilihnya Dimas Diajeng Jogja sebagai MC acara ini karena Dimas Diajeng merupakan Duta Pariwisata dan Kebudayaan di Yogyakarta. Keterlibatan Dimas Diajeng dalam acara ini salah satu tujuannya adalah untuk menjadi ikon generasi muda yang dinamis dan berbudaya, sehingga dapat menularkan kepada generasi muda yang lain rasa cinta budaya itu sendiri.


Jelajah Wisata "nJeron Beteng"

ditulis oleh : Diajeng Isya Primaruti


Minggu pagi tanggal 9 Agustus 2009 yang cerah itu saya lalui untuk mengikuti kegiatan jelajah wisata yang menakjubkan bersama teman-teman dari Paguyuban Dimas Diajeng Kota Yogyakarta dan juga beberapa peserta lainnya yang merupakan mahasiswa asing, dan mahasiswa lokal dari perguruan-perguruan tinggi di Yogyakarta. Acara ini tentunya dapat terselenggara berkat dukungan penuh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Yogyakarta. Acara tersebut dimulai pukul 08.00 dengan pelepasan peserta dengan becak masing-masing dari nDalem Kaneman.


Tempat pertama yang kami kunjungi adalah sebuah rumah tradisional khas Yogyakarta yang merupakan milik dari KRT. Kusumabudaya. Sebuah rumah yang asri dengan pepohonan rindang di halamannya. Sangat tradisional. Setelah beberapa saat mengagumi rumah KRT. Kusumabudaya, kami melanjutkan perjalanan menuju Pojok Beteng Wetan untuk kemudian berjalan ke Plengkung Gading. Bangunan gaya Yogyakarta yang masih kokoh ini ternyata sangat unik, namun sayangnya, masyarakat disekitar beteng kurang menghargai salah satu objek wisata bersejarah ini. Hal ini dapat dilihat dari adanya pakaian-pakaian yang sedang dijemur oleh mereka di atas tembok beteng.




[caption id="attachment_78" align="alignright" width="300" caption="Jelajah Wisata "nJeron Beteng""]Jelajah Wisata "nJeron Beteng"[/caption]

Puas bercengkerama bersama teman-teman di bawah teriknya sinar matahari, membuat kami bergegas menuju Alun-alun Kidul atau Alun-alun Selatan. Di tempat ini, para peserta diizinkan untuk mencoba wisata Masangin atau Masuk Di antara  Dua Beringin, yaitu sebuah permainan berjalan lurus di antara di pohon beringin kembar dengan mata tertutup. Masyarakat di sekitar Alun-alun kidul percaya, barang siapa berhasil melewati pohon beringin dengan mulus, maka permohonan mereka akan terkabul. Sepengetahuan saya orang yang benar-benar dapat dengan sukses menyelesaikan permainan ini adalah Diajeng Dita. Sementara peserta yang lain, termasuk saya sendiri berbelok dan tidak bisa berjalan lurus di antara dua pohon beringin tersebut, bahkan ada yang justru memutar menjauhi kedua pohon beringin tersebut.




[caption id="attachment_90" align="alignleft" width="300" caption="Jelajah Wisata "nJeron Beteng""]Jelajah Wisata "nJeron Beteng"[/caption]

Lelah bermain, tour guide mengajak kami untuk meneruskan perjalanan menuju Ndalem Kemandungan suatu tempat yang merupakan gerbang pintu belakan Kraton Yogyakarta yang terletak di belakang bangunan Siti Hinggil. Menurut tour guide kami, Ndalem kemandungan merupakan simbol dari rahim tempat mengandung janin seorang wanita. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju rumah yang dulunya merupakan kepunyaan Ndoro Ngabehi yang ternyata sekarang sudah berpindah tangan pada pengusahasa terkenal, Bapak Probo Sutedjo. Suasana yang nyaman dan sejuk membuat kami sedikit malas untuk melanjutkan perjalanan menuju kompleks objek wisata Taman Sari namun, rasa ingin tahu kami terhadap Taman Sari mampu mengalahkan rasa malas kami dan kami bergegas melanjutkan perjalanan menuju kompleks objek wisata Taman Sari.


Taman Sari adalah sebuah bangunan yang berusia tua yang dulunya merupakan pelabuhan dan juga tempat mandi Raja dan anak-anak Raja Kraton. Bangunan yang megah ini, saat ini tampak sedang mulai akan dipugar kembali pada bagian kolamnya. Di kompleks objek wisata Taman Sari, terdapat sebuah masjid bawah tanah tua yang berbentuk melingkar seperti kue donat. Menurut tour guide kami, bngunan ini dibuat sedemikian rupa agar khotib dan imam tidak perlu menggunakan pengeras suara supaya suara mereka dapat didiengar. Rupanya perjalanan hari itu selesai setelah kami mengunjungi masjid bawah tanah yang di dalamnya terdapat sumur gemuling, sumur yang dipercaya bahwa ujungnya berada di laut selatan. Maka setelah itu kami pun segera melanjutkan perjalanan kami menuju Ndalem Kaneman untuk makan siang. Begitulah cerita menyenangkan saya dan peserta Jelajah Wisata “nJeron Beteng” lainnya pada hari yang menyenangkan ini.

Pengumuman Finalis 30 Besar Pemilihan Dimas Diajeng Provinsi DIY Tahun 2009

PENGUMUMAN FINALIS 30 BESAR


PEMILIHAN DIMAS DIAJENG PROVINSI DIY TAHUN 2009





Berdasarkan hasil seleksi administrasi, tes tertulis, dan wawancara yang telah dilaksanakan di Aula Sapta Pesona Dinas Pariwisata Provinsi DIY pada:



















Hari, tanggal


Acara
Jum’at, 14 Agustus 2009Seleksi administrasi
Sabtu, 15 Agustus 2009Tes Tertulis
Rabu dan Kamis, 19 dan 20 Agustus 2009Tes Wawancara

Panitia Pelaksana memutuskan 30 Finalis Pemilihan Dimas Diajeng Provinsi DIY Tahun 2009 sebagai berikut:

15 Finalis Dimas Provinsi DIY Tahun 2009:



































































































No.



Nama Dimas



Kab/Kota



Nilai


1.Dwi Andi Listiawan

Kota


270,25
2.Heri Kusnanto

Bantul


264,2
3.Patria Nurhari

Sleman


262
4.Bagus Aditya SW

Bantul


255,75
5.Tony Darmanto

Kota


254,35
6.Akbar Hakim Prabowo

Kota


251,55
7.Deka Armyka

Kulonprogo


250,85
8.Muhammad Said Al Hadi

Bantul


249,65
9.Dhinar Arga Dumadi

Kota


248,5
10.Andar Muryadianto

Gunungkidul


247,5
11.Drh. Arief Sulistyono

Bantul


245,8
12.Bayu Ariaji Sukmono

Kota


244,05
13.M. Luthfi Majid

Kulonprogo


242,8
14.Hayu Avang Darmawan

Kulonprogo


242,8
15.Tedy Setiana Muslich

Sleman


240,65

Cadangan Finalis Dimas:














1.Mega Cahya Nalasukma

Sleman


239,2
2.Nashrul Jihadan

Sleman


235,75



15 Finalis Diajeng Provinsi DIY Tahun 2009:




































































































No.Nama Diajeng

Kab/Kota



Nilai


1.Sekar Sari

Kota


266,2
2.Maria Yuniar Putri  P.

Gunungkidul


259,5
3.Agita Yuri Kiatanti

Kota


257,95
4.Natasya Reka Maheswari

Kota


256,6
5.Devinta Indraprasti

Sleman


254,3
6.Alfatika Aunuriella Dini

Kota


252
7.Rasda Diana

Sleman


250,8
8.Ratih Chandra Kusuma

Kota


248,25
9.Mery Christian Putri

Sleman


247,65
10.Lisa Permita Sari

Sleman


247,6
11.Nur Hidayah

Bantul


247,35
12.Ratna Athiah

Bantul


246,95
13.Putri Arum Sari

Sleman


246,5
14.Ririn Setyawati

Bantul


245,35
15.Ika Widiastuti

Kulonprogo


238,8

Cadangan Finalis Diajeng:














1.Megawati Mahar

Bantul


236,3
2.Tri Hayunanti

Kulonprogo


235,5

Demikian keputusan Panitia Pelaksana Pemilihan Dimas Diajeng Provinsi DIY tahun 2009. Keputusan Panitia Pelaksana tidak dapat diganggu gugat.

Catatan:
Cadangan finalis akan segera dihubungi panitia apabila ada finalis yang mengundurkan diri.

Yogyakarta,   25 Agustus 2009


a.n Panitia


ttd


Drs. R.M. Budi Haryoto


NIP. 19560816 1985 03 1 009

Pengumuman Briefing Finalis Pemilihan Dimas Diajeng Provinsi DIY Tahun 2009

PENGUMUMAN BRIEFING


PEMILIHAN DIMAS DIAJENG PROVINSI DIY TAHUN 2009






  1. Briefing akan dilaksanakan pada hari Rabu, 26 Agustus 2009 di Aula Dinas Pariwisata Provinsi DIY, Jl. Malioboro 56 Yogyakarta  jam 13.00 WIB.

  2. Peserta wajib membawa materai 6 ribu rupiah 1 lembar yang akan digunakan untuk mengisi pernyataan kesanggupan sebagai Finalis Dimas Diajeng Provinsi DIY Tahun 2009.

  3. Dress code : batik, bersepatu.

  4. Finalis Diajeng wajib membawa sepatu high heels.

  5. Membawa alat tulis

  6. Contact person:

    • Bu Inga: 081 215 84 226



    • Dimas Indra: 0857 4325 8327




a.n. Panitia,


Sekretaris



ttd



Siti Inganati, SS, MM


NIP. 19720119 1998 03 1 007

Rabu, 19 Agustus 2009

Pemilihan Dimas dan Diajeng DIY 2009

Setelah terpilih masing-masing lima pasang wakil dari tiap kabupaten atau kota, dimulailah seleksi Pemilihan Dimas dan Diajeng tingkat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 2009. Proses seleksi yang dilaksanakan meliputi Tes Tertulis dan Tes Wawancara.

Berikut ini adalah nama-nama peserta Pemilihan Dimas dan Diajeng Propinsi DIY 2009.

Dimas :
1.    Drh. Arief Sulistiyono
2.    Heri Kusnanto
3.    Eko Harry Saputra
4.    Muhammad Said Al-Hadi
5.    Bagus Aditya SW
6.    Hayu Avang Darmawan
7.    Albert Pria Ananto
8.    Senky Asrita
9.    Deka Armyka
10.    Muhammad Luthfi Majid
11.    Patria Nurhari
12.    Tedy Setiana Muslich
13.    Yustinus Nurgiatmoko
14.    Mega Cahya Nalasukma
15.    Nashrul Jihadan
16.    Andar Muryadianto
17.    Galih Lanang Yoga Pamungkas
18.    Hendri
19.    Dedi Irawan
20.    Roy Rizki
21.    Akbar Hakim Prabowo
22.    Dinar Arga Dumadi
23.    Dwi Andi Listiawan
24.    Bayu Ariaji Sukmono
25.    Tony Darmanto

Diajeng :
1.    Nur Hidayah
2.    Ririn Setyawati
3.    Onie Puspa
4.    Megawati Anhar
5.    Ratna Athiah
6.    Yachinta Triana Puspita
7.    Tri Hayunanti
8.    Novita Dwi Ningrum
9.    Ika Widiastuti
10.    Nawang Puspito Ningsih
11.    Rasda Diana
12.    Mery Cristian Putri
13.    Putri Arum Sari
14.    Lisa Permita Sari
15.    Devinta Indraprasti
16.    Maria Yuniar Putri P
17.    Nurlia Handayani
18.    Hilda Prabayani Putri
19.    Yeti Prihana
20.    Yustina Nawang R
21.    Ratih Candra Kusuma
22.    Agita Yuri Wida Kiatanti
23.    Sekar Sari
24.    Natasya Reka Maheswai
25.    Alfatika Aunuriella Dini

Dari tes tertulis dan tes wawancara yang dilakukan, nantinya akan diambil 15 pasang (30 orang) terbaik untuk maju ke tahap Final Pemilihan Dimas dan Diajeng DIY 2009. Penentuan finalis ini murni berdasarkan nilai dari kedua tes tersebut, tanpa melihat asal dari masing-masing peserta.

Minggu, 09 Agustus 2009

Pemenang Pemilihan Dimas dan Diajeng Kota Yogyakarta 2009

Setelah melewati proses tahapan seleksi yang bertahap, mulai dari seleksi administratif, seleksi tertulis dan wawancara, serta tahap Final yang mengharuskan setiap finalis menjawab pertanyaan dewan juri di depan khalayak umum, terplilihlah lima pemenang yang sekaligus akan mewakili Kota Yogyakarta untuk dikirim ke Pemilihan Dimas dan Diajeng DIY 2009.  Kelima pasang Dimas dan Diajeng tersebut adalah :

[gallery link="file" columns="2"]

Kelima pasang Dimas dan Diajeng Kota Yogyakarta tersebut telah berhasil memukau dewan juri yang terdiri dari Dra. Pratiwi Yulani (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta), M. Deski (Ketua ASITA), dan Khairullah Ghazali (Jogja Tourism and Training Center). Bukan hanya keluwesan peserta dalam menggunakan busana Kasatriyan Ageng dan Jogja Putri saja yang dinilai, namun seluruh finalis juga diharuskan untuk menjawab pertanyaan dewan juri di depan tamu undangan dan penonton yang memadati halaman parkir air mancur Balaikota Yogyakarta.

Rabu, 05 Agustus 2009

Pengumuman Finalis Pemilihan Dimas & Diajeng Kota Yogyakarta 2009

Berdasarkan Surat Keputusan Panitia Pemilihan Dimas & Diajeng Kota Yogyakarta 2009, diputuskan yang berhak maju ke tahap final adalah nama-nama sebagai berikut :

DIMAS
1.    Agus Wicaksono
2.    Akbar Hakim Prabowo
3.    Anton Mustofa
4.    Bayu Ariaji Sukmono
5.    Dhinar Arga Dumadi
6.    Dwi Andi Listiawan
7.    Istikmaluddin
8.    Satya Mahendra
9.    Tony Darmanto
10.    Zakaria Ahmad

DIAJENG
1.    Agita Yuri Wida Kiatanti
2.    Alfatika Aunuriella Dini
3.    Handayani Dhuita
4.    Ian Agisti Dewi Rani
5.    Isya Primaruti
6.    Natasya Reka Maheswari
7.    Ratih Chandra Kusuma
8.    Sekar Sari
9.    Wahyuni Putri
10.    Yulisa Vida Wahyu Pertiwi

Tertanda,
DEWAN JURI

Undangan Finalis Pemilihan Dimas & Diajeng Kota Yogyakrta 2009

Undangan
Kepada Yth. Finalis Pemilihan Dimas & Diajeng Kota Yogyakarta 2009
di Yogyakarta

Panitia Pemilihan Dimas & Diajeng Kota Yogyakarta 2009 akan mengadakan briefing pelaksanaan Final Pemilihan Dimas & Diajeng Kota Yogyakarta 2009. Briefing tersebut akan dilaksanakan pada :

Hari /  tanggal    : Kamis, 6 Agustus 2009
Waktu                 : 14.00 WIB – selesai
Tempat               : Ruang Rapat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta
.                             Jl. Suroto 11 Kotabaru, Yogyakarta

Para finalis dimohon untuk mempersiapkan busana pakem Dimas & Diajeng yang akan digunakan pada tahap Final Pemilihan Dimas & Diajeng Kota Yogyakarta 2009, yakni Kesatriyan Ageng untuk Dimas dan Jogja Putri untuk Diajeng.

Demikian surat undangan ini kami sampaikan, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Tertanda,
Panitia Pemilihan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta 2009.

NB:
Finalis diharapkan membawa foto terbaru dalam bentuk softcopy.

Senin, 03 Agustus 2009

Rundown dan Peraturan Tes Tertulis dan Wawancara Pemilihan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta 2009

Rundown Tes Tertulis dan Wawancara

13.00 – 14.00    Daftar Ulang Peserta
14.00 – 14.30    Pembukaan
.                         Sambutan
.                         Briefing
14.30 – 15.00    Tes Tertulis
15.00 – selesai   Wawancara

Peraturan Tes Tertulis dan Wawancara

1. Peserta hadir 30 menit sebelum waktu daftar ulang.
2. Daftar presensi peserta saat daftar ulang akan menjadi nomor urut peserta dalam melakukan tes tertulis maupun wawancara.
3. Peserta membawa alat tulis sendiri.
4. Tes tertulis dilaksanakan selama 30 menit.
5. Tes wawancara akan dilaksanakan setelah tes tertulis berakhir.
6. Setiap peserta wajib mengkikuti seluruh rangkaian tes wawancara di lima bidang (Pariwisata, Budaya, Bahasa Asing, Pengetahuan Umum dan Pemerintahan, serta Public Speaking dan Minat Bakat).
7. Tes wawancara di setiap bidang dilaksanakan maksimal 5 menit.
8. Dress code Smart Casual. Dimas: kemeja lengan panjang, dasi, celana kain, dan sepatu fantovel . Diajeng : kemeja lengan panjang, celana kain atau rok, dan sepatu high heels.
9. Hanya 10 Pasang Dimas dan Diajeng terbaik yang berhak melanjutkan ke tahap Final.
10. Peraturan dan tata tertib lainnya akan diinformasikan pada saat pelaksaan kegiatan.

Seleksi Tertulis dan Wawancara Pemilihan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta 2009

Berikut ini adalah daftar nama peserta Pemilihan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta 2009 yang berhak mengikuti Seleksi Tertulis dan Wawancara.

Dimas :

1.    Satya Mahendra
2.    Anton Mustofa
3.    Agus Wicaksono
4.    Gunawan Ahmadi
5.    Dwi Andi Listyawan
6.    Rheza Satya Permana
7.    Wahyu Riyatno
8.    Istikmaluddin
9.    Zakaria Ahmad
10.    Didik Kurniawan
11.    Ichfanny Hangga Sakti
12.    Tony Darmanto
13.    Akbar Hakim
14.    Bayu Ariaji Sukmono
15.    Dhinar Arga Dumadi
16.    Abraham Rayn Siregar
17.    Suyadi
18.    Rah Aji Tegar Maulana

Diajeng :

1.    Agita Yuri Wida Kiatanti
2.    Yulisa Viida Wahyu Pertiwi
3.    Aragani Timur Kanistren
4.    Diah Susanti Shinta Dewi
5.    Handayani Dhuita Andarjati
6.    Alfatika Aunuriella Dini
7.    Natasya Reka Maheswari
8.    Sari Nuritalia
9.    Fitri Mandiri Hatta
10.    Ratih Chandra Kusuma
11.    Wahyuni Putri
12.    Sekar Sari
13.    Ratna Pamungkas
14.    Rika Anggraini W
15.    Medania Purwaningrum
16.    Isya Primaruti
17.    Nurwinda Latifah
18.    E. Novelma Christine GP
19.    Maria Endah Perwitasari
20.    Wulandari
21.    Artistha Shandi Idola
22.    Rahmadhani Hartiningtyas
23.    Jowien Tyas Nagaswati
24.    Ian Agisti Dewi Rani
25.    Savina Hasbiani

Seleksi Tertulis dan Wawancara Pemilihan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta akan dilaksanakan pada hari Selasa, 4 Agustus 2009 mulai pukul 14.00 WIB (sampai selesai) di Ruang Utama Atas Balaikota Timoho Yogyakarta. Peserta diharapkan membawa alat tulis sendiri, dan wajib membawa KTP / KIPEM beserta satu lembar fotokopiannya.

Materi yang akan diujikan dalam tes tertulis adalah pengetahuan tentang Pariwisata dan Budaya Yogyakarta, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, serta Birokrasi dan Pemerintahan. Sedangkan materi wawancara meliputi Pariwisata, Kebudayaan, Pengetahuan Umum dan Pemerintahan, Bahasa Asing, serta Public Speaking dan Minat Bakat.

Peserta diwajibkan menggunakan busana Smart Casual. Untuk Dimas menggunakan kemeja lengan panjang, dasi, celana kain, dan sepatu fantovel, sedangkan untuk Diajeng menggunakan kemeja lengan panjang, celana kain atau rok, dan sepatu high heels.